Rektor Unhas Ceramah di Mesjid Al Markaz Al Islami

12 Juni 2017 10:44
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, membawakan ceramah Ramadhan di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar.(ist)

MAKASSAR,INIKATA.com – Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, membawakan ceramah Ramadhan di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar.

Ceramah disampaikan menjelang shalat tarwih di hadapan lebih 1.500 jama’ah.

Pada kesempatan itu, Prof. Dwia menyampaikan topik tentang “Konflik Dalam Perspektif Islam”.

Dengan latar belakang keilmuan sebagai sosiolog yang mendalami kajian konflik, Prof. Dwia memaparkan bagaimana seharusnya umat Islam memahami konflik menurut perspektif Islam.

“Konflik adalah realitas yang tidak dapat kita hindari. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu berinteraksi dengan manusia lain. Pada saat itulah mungkin saja terjadi perbedaan pandangan dan perbedaan sikap. Manusia itu pada dasarnya penuh dengan keragaman. Itulah sebabnya konflik merupakan realitas sosial yang selalu ada,” papar Prof. Dwia.

Berangkat dari dasar pemikiran itu, maka kita, khususnya umat Islam, harus dapat mencermati konflik dalam perspektif Islami.

“Ada beberapa firman Allah dalam Al Qur’an, hadist-hadist, bahkan hikayat-hikayat dalam Islam yang menggambarkan bahwa konflik itu sebenarnya memiliki manfaat untuk menjadikan kita lebih tegar, lebih teruji, dan lebih tangguh. Itulah salah satu hikmah dari hadirnya konflik,” kata Prof. Dwia.

“Dalam merespon konflik, ada beberapa langkah yang harus kita perhatikan. Yang utama adalah, kalau ada konflik, jangan disembunyikan, tetapi harus diungkapkan. Mengapa? Agar orang lain tahu bahwa ada konflik, sehingga dapat dicarikan solusi bersama-sama. Jika kita tidak mengungkapkan situasi konflik, kita hanya memendam dalam hati saja itu justru bahaya. Karena konflik itu berpotensi merembes. Sebelum merembes, ia harus dicarikan jalan penyelesaian. Disitulah pentingnya berkomunikasi,” Prof. Dwia menjelaskan.

Selanjutnya, Prof. Dwia menguraikan cara terbaik dalam mengkomunikasikan konflik.

“Kuncinya adalah dengan lemah-lembut, dan dengan mengedepankan prinsip keadilan. Sifat lemah lembut itu bukan hanya milik kaum perempuan. Bapak-bapak dan para lelaki juga harus memilikinya. Sesungguhnya, sifat lemah-lembut itu jauh lebih kuat dari pada sifat yang kasar dan keras. Kalau kita menginginjan sesuatu, jauh lebih kuat jika kita meminta dengan kelembutan, daripada dengan bahasa kasar,” kata Prof. Dwia.

Sebagai pemimpin dari perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur yang memiliki ribuan dosen, tenaga pendidik, dan lebih 30 ribu mahasiswa, Prof. Dwia juga membagikan tips mengelola konflik sebagai pemimpin.

“Kuncinya adalah harus mempunyai prioritas. Sebab tidak semua persoalan itu bisa kita atasi sendirian. Kita fokus pada konflik yang berpotensi mengganggu kinerja kita sebagai suatu organisasi,” kata Prof. Dwia pada bagian akhir ceramahnya.

Ribuan jama’ah masjid Al Markaz Al Islami tampak tekun mencermati paparan Rektor perempuan pertama Unhas ini.

Tampak diantara para jama’ah yang hadir adalah Ketua Majelis Wali Amanat Unhas, yang juga merupakan Koordinator Badan Pengelola Harian Masjid Al Markaz, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA. (*)