Rastra Tak Layak Konsumsi Menyebar, Bro Rivai Sentil Pemprov Sulsel

28 April 2017 13:36
Bro Rivai. (ist)

MAKASSAR, INIKATA.com – Sepanjang sepekan terakhir, publik dikejutkan dengan beredarnya beras sejahtera (rastra) yang tidak laik konsumsi di Kabupaten Jeneponto. Warga penerima rastra pun ramai-ramai menolak beras subsidi tersebut.

Terkait kasus beras tak laik konsumsi yang dulunya dikenal dengan nama beras miskin (raskin) itu, Bakal Calon Gubernur Sulsel Abdul Rivai Ras (Bro Rivai) angkat bicara. Ia terkejut lantaran beras seperti itu menyebar di provinsi yang dikenal sebagai lumbung beras.

“Provinsi kita ini kan dikenal sebagai lumbung beras. Setiap tahun kita surplus beras, terakhir 2,6 ton, bahkan kita mengekspor beras kualitas premium ke 22 provinsi lain di Indonesia.‎ Kan jadi aneh kalau warga kita sendiri yang tergolong prasejahtera itu diberi beras yang tidak layak konsumsi. Provinsi lumbung beras kok bisa begini,” sesal Bro Rivai, Jumat (28/4/2017).

‎Menurut penuturan warga, beras rastra tersebut berbau dan penuh kutu. Teksturnya pun tak laik disebut beras sebab sudah hancur seperti tepung dan berwarna kuning. Bro Rivai menduga beras yang dibagi pihak Bulog Jeneponto tersebut sudah daluarsa.

‎”Bahan pangan yang sudah daluarsa itu berbahaya bagi kesehatan. Jangan karena penerimanya adalah masyarakat yang kurang mampu, terus semena-mena kita kasi beras yang cocoknya untuk pakan ternak,” tegas alumni studi kepemimpinan di Inhere Furhung, Strausberg dan Berlin ini penuh emosi.

Alumni Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di Giessen University, Jerman ini mengimbau manajemen bulog agar tidak bertindak dikriminatif terhadap warga Sulsel yang kurang mampu.‎

“Andaikan saya seorang gubernur, justru saya akan memberikan beras kualitas premium untuk warga kita yang miskin. Hidup mereka sudah sulit, jangan dibuat tambah sulit lagi. Kita justru harus mengupayakan agar mereka bisa menikmati makanan yang enak dan menyehatkan. Paling minimal itu. Lebih baik lagi kalau kita juga menanggung biaya pendidikan anaknya dan juga biaya rumah sakit, “‎ imbuh Dosen Luar Biasa Pascasarjana Universitas Indonesia ini. (**)