Tetesan Air Mata dan Bungkusan Makanan Seorang Ibu Untuk si Pencuri Ayam

6 Juni 2017 18:19
Budi saat diamankan di Mapolsek Rappocini.(Foto: Afriansyah/Inikata.com)

MAKASSAR, INIKATA.com– Buliran air mata mengalir turun, pipih seorang ibu basah saat kedua tangannya mulai mengusap wajahnya, Ibu paruh baya itu bernama Ceda (48).

Langkahnya tertatih penuh lelah, Saat ia berada di halaman Parkir Kantor Polsek Rappocini, Jalan Sultan Alauddin, kota Makassar pada Selasa dinihari (6/6/2017).

Gelisah nampak jelas di raut wajahnya, pikirannya yang kusut merubah prilakunya hingga nampak tak karuan. tak lama Ceda duduk dibalai kantor, namun kembali berdiri sambil jalan kesana kemari dengan kantongan kusut berisi makanan.

Penulispun mendekatinya, dengan suara terbatah penuh prihatin, penulis mencoba bertanya, “ibu kenapa gelisah dan mondar mandi kesana kemari?.,” Anak saya ditangkap pak, namanya Budiarso (20),” kata ibu itu dengan suara sesak, sembari kembali mengusap wajahnya.

Cerita pembuka itu rupanya membawa Ibu ini berbicara lebih dalam soal keluarganya, dia memulai dari rasa tak percaya anak kesayanganya itu akan berbuat prilaku kriminal.

Namun, ketika pembicaraan akan berlanjut, tangisan kembali tumpah, fikirannya berlalu ke hal lain, dia teringat kisah hidupnya saat ini bersama anaknya yang hanya numpang tinggal di Jalan Skarda.

Rumah tempat dia bernaung itu adalah milik bos Budi, sapaan anaknya, sebab, disanalah tempat Budi bekerja menjaga kolam ikan.”Saya baru tinggal disana baru setahun sejak puasa tahun 2016 lalu pak,” ujar tangisnya.

Ceritanya lalu berlanjut saat Budi bersama Ceda tinggal disebuah rumah gubuk di Kecamatan Tallo dengan kondisi yang memprihatinkan. Akan tetapi nasibnya mulai berubah saat Budi mendapat pekerjaan, gajinya pun terbilang cukup buat makan, sekitar Rp 1 Juta hingga Rp 1,5 Juta, terlebih bos Budi memberinya tempat tinggal di Jalan Skarda.

Cerita ibu itu ditutup saat dia memberi nasehat kepada Budi Sebelum Budi kedapatan mencuri ayam milik tetangga, Ceda berkisah sempat memberi pesan kepada anaknya, agar tak bergaul dengan seseorang berinisial S.

“Saya perna ditanya sama tetangga Dg Ratang waktu pertama tinggal disana, ada orang berpesan kalau jangan bergaul sama itu namanya Syahrul karena dia orangnya suka ambil barang orang,” tiru Ceda dari Dg Ratang.

Namun apa boleh buat, Budi tak mendengat petuah ibunya. Syahrul juga kerap menjemput Budi di tempatnya, mengajak untuk keluar bergaul. Tapi pergaulan Budi berujung pada jeruji besi.

“Budi dan Syahrul sudah tujuh bulan berteman semenjak kami tinggal disana. Ini yang saya takutkan ketika terjadi hal tidak mau saya lihat. Kasihan anakku pak salah bergaul ternyata sama orang,” terangnya.(**)