Mantan Kadis Pariwisata Sulsel Bicara Budaya dengan Pemuda

13 Mei 2017 14:08
Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) Makassar, lembaga kepemudaan yang berperan aktif dalam pelestarian kebudayaan menggelar diskusi dengan tema "Peranan Adat Istiadat Dalam Dunia Modern", Sabtu (13/5/17) di Gedung PKK Makassar,Jalan Anggrek Raya No.1 Kecamatan Panakkukang.( yudha/inikata)

MAKASSAR, INIKATA.com – Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) Makassar, lembaga kepemudaan yang berperan aktif dalam pelestarian kebudayaan menggelar diskusi dengan tema “Peranan Adat Istiadat Dalam Dunia Modern”, Sabtu (13/5/17) di Gedung PKK Makassar,Jalan Anggrek Raya No.1 Kecamatan Panakkukang.

Hadir Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sul-Sel, Jamaluddin Aziz Dg. Jaga, Asia Ramli Prapanca Akademisi UNM dan lembaga – lembaga kedaerahan yang ada di kota Makassar.

Jemaluddin mengatakan,ciri khas dan gaya bicara orang Makassar, memiliki karakter tersendiri. Gaya bicaranya seakan lugas dan sering dianalogikan dengan badik mereka yang selalu diselipkan pada pakaian di depan perutnya.

“Ketika digengam maka badik itupun senantiasa dinampakkan di depan. Gaya bicara ini oleh orang Makassar sendiri disebut tembak langsung(silangsunganna) berbicara langsung pada tujuan, tidak berbelit-belit, bicara ada adanya,”kata Jamaluddin.

Lanjutnya, apabila mimik wajahnya sedang marah maka akan mengisyarakat dengan nada yang tinggi dan kata yang cukup kasar yang keluar. Dan apabila sedang memuji maka mimik mukanya akan menampakkan pujian yang totalitas.

“Jikapun situasi memaksa mereka untuk mengungkapkan bentuk sindiran atau majas, maka ungkapan akan mereka ungkapkan dalam bentuk pribahasa daerah yang disebut Galigo,”tambahnya.

Asia Ramli Prapanca menambahkan, berdasarkan prasasti yang pernah ditemukan. Hampir sebagian besar penduduk Madagaskar, Afrika Selatan

Dari perawakan fisiknya sebagian besar penduduk Madagaskar, Afrika Selatan tak jauh berbeda dengan bahasa Makassar pada umumnya.

Rumpun Melayu dari pada ras Negroid. Dari penelitian Genekologi yang dilakukan di dapatkan hasil bahwa penduduk Madagaskar masih punya pertalian gen dengan suku-suku di Nusantara.

“Persamaan ini karena orang-orang nusantara dan Madagaskar masih rumpun Austronesia. Dan bukti menyatakan ada 500 kata yang tak jauh berbeda dengan digunakan suku Malagasi di Madagaskar adalah bahasa Makassar,”tambahnya.

Sementara, Muhammad Indra Alam mengharapkan bahwa kedepannya dengan hasil diskusi yang telah dihadirkan nantinya akan menghasilkan kesimpulan bagi para pemerhati budaya agar lebih peduli lagi terhadap pelestarian daerah masing – masing.

“Semoga kedepannya dengan adanya diskusi seperti ini dapat melahirkan generasi pemerhati budaya yang akan lebih fokus dengan budaya,”tukasnya. (***)