Rp800 Juta sebagai Uang Pelicin Dalam Kasus Korupsi yang Diduga Melibatkan Bupati Lutra

26 Februari 2017 17:41
Ronny berstatus Justice Collaborator (JC) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

MAKASSAR, INIKATA.com – Kasus korupsi dalam proyek pengelolaan Dana Intensif Daerah (DID) Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan yang diduga melibatkan Bupati Luwu Utara (Lutra), Indah Putri Indriani terus bergulir.

Bahkan indikasi terbaru dalam kasus itu disebutkan adanya dugaan aliran dana senilai Rp800 juta yang dikeluarkan dua investor yang disinyalir sebagai uang pelicin dalam pengurusan dana intensif daerah Kabupaten Lutra tahun 2011-2012 di Kementerian Keuangan.

Sumber IniKata.com, Ronny berstatus Justice Collaborator (JC) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga sebagai saksi kasus tersebut menyebutkan, dalam proses pengurusan proyek DID itu sangat panjang. Dimana sejak awal kegiatan perencanaan DID dikawal oleh dua investor atau pemodal.

“Khususnya back-up full pembiayaan keluarga Indah Putri Indriani yang saat itu menjabat Wakil Bupati Lutra bersama suaminya, Fauzi selama pengurusan sampai pencairan DID 2011,” kata Ronny sambil memperlihatkan bukti tiket pemberangkatan maupun nota penginapan hotel, Minggu (26/2/2017).

Kata Ronny (JC), keduanya berperan mengurus pembelian tiket penerbangan dan pembiayaan penginapan atau hotel di Makassar dan di Jakarta bagi beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara.

Menurut dia, salah satu investor, itu merupakan pegawai anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sedangkan seorang investor lainnya adalah direktur utama sebuah CV.

Dalam perjalanan pengurusan anggaran DID, Indah Putri Indriani saat itu mengklaim agar calon rekanan penyedia barang harus sanggup terlebih dahulu menyediakan dana cash sebelum turun surat Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Hal itu diklaim oleh Indah katanya sebagai komitmen awal pembayaran fee untuk sejumlah anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI demi memuluskan proses pencairan anggaran DID,” ujar dia. (**)