Tomy Satria Berbagi Inspirasi di TOWR Bulukumba

25 Februari 2017 16:10
Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto saat membuka literasi TOWR (Training of Writer and Recruitment) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) dengan menggandeng IMM dan Pemuda Muhammadiyah Bulukumba.

BULUKUMBA, INIKATA.com – Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto diundang datang di pembukaan kegiatan literasi TOWR (Training of Writer and Recruitment) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) dengan menggandeng IMM dan Pemuda Muhammadiyah Bulukumba.

Tomy Satria Juga

Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto saat membuka literasi TOWR (Training of Writer and Recruitment) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) dengan menggandeng IMM dan Pemuda Muhammadiyah Bulukumba.

Kegiatan dilaksanakan di STKIP Muhammadiyah, ini akan berlangsung selama 3 hari. Menurut Ketua FLP Sulawesi Selatan Fakhruddin Ahmad, ini adalah proyek literasi, dan dirinya menjamin selama pelatihan peserta akan ketagihan dan jatuh cinta pada dunia literasi.

“Kalau sudah jatuh cinta, berapa pun uang panaiknya akan tetap ditebus” kata Fakhruddin meyakinkan, Sabtu (25/2/2017).

Usia FLP kata Fakhruddin sudah menginjak usia 20 tahun. Dia sedikit berkisah awal dari terbentuknya forum tersebut berawal dari kegelisahan sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia tahun 1997 atas kondisi literasi saat itu dimana referensi sastra islam sangat kecil, yang ditemukan dan lebih banyak beredar adalah karya novel Fredy.S, dan majalah atau tabloid wanita. Untuk melawan itu terbentuklah forum tersebut sebagai wadah bagi para mahasiwa untuk menulis dan berbagi referensi.

Fakhruddin juga menantang Wabup Tomy Satria untuk menulis essai, tidak hanya tulisan pengantar untuk sebuah buku, tapi isinya juga ada tulisan dari Tomy Satria.

“Saya mengajak semua termasuk pak Wabup untuk selalu menulis, tulislah apa yang menjadi pemikiranmu, ukurannya 1000 sampai 5000 kata itu sudah cukup untuk dipublikasi.” jelas Fakhruddin di hadapan peserta pelatihan.

Adapun Tomy mengaku merindukan forum forum seperti itu hadir di Bulukumba, dan berharap ke depan lebih banyak lagi yang menjadi penggiat literasi. Ia pun mengapresiasi sejumlah remaja yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Kata Tomy, setiap tahun di hari jadi kita selalu disuguhi sejarah Bulukumba dengan kata “konon” berasal dari dua kata Buluku dan Mupa. Itu terjadi karena peradaban kita dulu lebih banyak oral daripada tulisan, sehingga sampai sekarang perdebatan dan diskusi tentang awal terbentuknya wilayah Bulukumba masih terus berlangsung.

Pengalaman akan kurangnya referensi pada masa lalu, lanjut Tomy menjadi pembelajaran bagi generasi sekarang untuk terus menuliskan sejarahnya sendiri. Tomy mengaku dulu sebelum menjadi wabup ia sering menulis kolom di media massa, termasuk di blog pribadinya, sekarang waktunya terbatas untuk itu, tapi ia mengaku tetap mengusahakan terus menulis, minimal di status media sosial.

Baca Juga: SD 24 Salemba dan SMP 1 Wakili Bulukumba Lomba UKS

Menurutnya dalam kontes kekinian, tidak ada alasan untuk tidak menuliskan ide dan gagasan kita, termasuk catatan-catatan perjalanan, karena wadah untuk menulis itu sudah terbuka lebar.

“Lepaskan kegelisahan itu dengan menulis, rangkailah kata menjadi kalimat terhadap gagasan dan idemu” ujar Tomy memberi semangat kepada peserta.

Pada kesempatan itu Tomy memberikan tips tips, bahwa menjadi penulis harus memiliki hasrat yang kuat, momentum seperti pelatihan tersebut harus ditangkap. Jangan karena keterpaksaan saja ikut forum tersebut, tapi itu harus menjadi kesenangan pribadi.

Tomy mengaku lebih mengapresiasi para pemuda yang dapat merangkai kata atas kegelisahan sosial yang disaksikannya, bukan menulis atas tendensi untuk menikam pribadi seseorang, tapi dia menulis dengan humanis

Kehadiran Tomy di acara tersebut mendapat ganjaran dari panitia dengan pemberian sejumlah buku kepada alumni Fisip Unhas ini. (**)

Baca Juga: Wabup Tomy Satria Hadiri Musda II KAHMI Bulukumba