Malpraktik, Mata Pasien Malah Buta Permanen

21 Januari 2017 13:18
Ilustrasi. (Foto: ist)

INIKATA.com – Harapan Tatok Poerwanto untuk bisa menyembuhkan katarak mata kirinya sirna sudah.

Kakek 78 itu justru mengalami buta permanen.

Hal ini diduga karena terjadi malpraktik dan pelanggaran oleh oknum dokter di tempatnya berobat yaitu Surabaya Eye Clinic.

Atas kondisi tersebut, pihak keluarga bersama pengacara melapor ke Polda Jatim.

Dalam laporan bernomor : LP B/75/I/2016/UM/JATIM tertanggal 18 Januari 2017, Tatok melaporkan dr. Moestidjab atas dugaan tindakan pidana penipuan dan atau memasukkan keterangan palsu kedalam suatu akta otentik.

Kejadian ini bermula saat Tatok mendapat perawatan medis di Surabaya Eye Clinic kawasan Jemursari Surabaya, pada 28 April 2016. Saat itu, Tatok ditangani oleh dr. Moestidjab.

Tapi, pascaoperasi pertama, Tatok justru tidak merasakan ada perubahan membaik.

“Saya masih merasakan nyeri dan sakit,” katanya saat ditemui di kediamannya Jl. UBI Gang II Surabaya.

Karena kian parah, Tatok pun akhirnya disarankan untuk operasi kedua. Lokasinya di RS. Graha Amerta Surabaya.

Alasannya, peralatan di rumah sakit tersebut lebih lengkap.

Tatok pun menuruti saran dokter tersebut. Pada 10 Mei 2016, operasi dilakukan. Dugaan kejanggalan pun dialami oleh keluarga.

Menurut Condro Wiryono Poerwanto, anak korban, operasi yang awalnya dijanjikan hanya berlangsung 30 menit, mendadak molor hingga lima jam.

Hingga pasca operasi kedua, dr. Moestidjab hanya menugaskan asistennya untuk menyampaikan hasil operasi kepada pihak keluarga.

“Dengan meminta asistennya mengatakan operasi tidak dapat dilanjutkan. Karena ada pendarahan. Selain itu, alat tidak memadai, jadi beliau angkat tangan,” ujar Condro.

Pihak keluarga pun membawa Tatok ke Rumah Sakit National Eye Centre (SNEC) di Singapura.

Alangkah terkejutnya pihak keluarga, saat diketahui hasil diagnosa bahwa mata sebelah kiri Tatok mengalami kerusakan.

Itu diketahui menantu Tatok, Eduard Rudi Suharto. Dia mengatakan berdasarkan rekam medis diagnosa yakni, kondisi mata Tatok tidak bisa ditangani, karena operasi pertama ada lensa mata yang sobek.

Tak hanya itu, pecahan katarak ternyata juga bertaburan di mata korban.

Hingga akhirnya, Eduard mendatangi dr. Moestidjab pada 13 Januari 2017.

Sudah sembilan bulan berlalu, akhirnya hasil rekam medis dari SNEC pun ditunjukkan.

“Dari awal pascaoperasi pertama beliau tidak mengatakan kondisi sebenarnya kepada keluarga. Bukan malah membaik justru kian parah yang dirasakan,” ujarnya.

Menurut Eduard saat didesak, akhirnya dr. Moestijab mengaku bahwa dia berbohong.

“Alasannya, saat itu gagal operasi, tapi dia malu untuk berterus terang. Karena takut reputasinya jatuh di mata keluarga kami,” tuturnya.

Terpisah, pihak Surabaya Eye Clinic, khususnya dr. Moestidjab belum memberikan keterangan resmi soal pelaporan tersebut.
Upaya konfirmasi dari media ini hanya ditemui pihak staf bernama Rinto.

Menurut keterangan wanita berjilbab ini, dr. Moestidjab memang berpraktik di klinik tersebut.

“Iya kalau praktik biasanya pagi. Jam 11 siang. Ini tadi beliau keluar. Saya tidak berani berstatemen soal itu,” ujar Rinto.

Sepengetahuan Rinto, dokter tersebut merupakan salah satu pemilik saham di klinik itu. (jpnn)