Dalam Mimpi, Anaknya Mengatakan Rumahnya di Sini

27 Desember 2016 9:54
Bocah perempuan khusuk berdoa di kuburan massal korban tsunami Ulee Lheu, Banda Aceh, Senin (26/12). Foto: ENO SUNARNO/RAKYAT ACEH/JPNN.com

BANDA ACEH – Ratusan warga memadati kuburan massal Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, dalam rangka peringatan 12 tahun gempa dan tsunami, Senin (26/12),

Selain ziarah, warga juga larut dalam doa, zikir dan mendengarkan tausiah Prof Farid Wajdi, Rektor UIN Arraniry.

Ani (65), seorang warga mengaku setiap tahun mendatangi kuburan massal korban tsunami. Ia yakin anggota keluarganya dikuburkan di pemakaman massal tersebut.

“Saya sering dimimpikan. Dalam mimpi anak saya mengatakan rumahnya di sini. Makanya tidak hanya saat peringatan tsunami, ketika teringat anak dan cucu saya saya berdoa di sini,” kata Ani.

Warga Ulee Lheue itu korban tsunami yang kehilangan suami dan anak. Walau 12 tahun sudah tsunami berlalu, namun ia mengaku masih trauma.

Hal serupa juga dirasakan Mor (62) warga Ule Lheue. “Saat bencana 100 orang kerabat dan saudara saya dipanggil Yang Kuasa, makanya saya kemari,” katanya.

Ia mengaku sepanjang hidupnya tetap teringat bencana tsunami. “Karena saya selamat saat tsunami, tersangkut di pohon kelapa depan masjid Peukan Bada,” katanya.

Menurut M Yacob, pengurus masjid Ulee Lheue, kuburan massal seluas dua kali lapangan bola itu menampung sekitar 14.500 korban tsunami.

“Dulu ini bekas rumah sakit,” katanya. “Saya ikut sejak awal membantu menguburkan jenazah korban tsunami di sini.”

Doa dan zikir bersama juga berlangsung di sejumlah kabupaten dan kota. Di Nagan Raya, peringatan 12 tahun tsunami berlangsung di Masjid Jamik Baiturrahim, Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir. Usai berdoa, warga mendengarkan tausiah yang disampaikan Tgk Ibnu Arahas.

“Kita bersedih, karena kehilangan sanak keluarga dan harta benda, cobaan yang diberikan Allah ingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidak kekal, nyawa, harta, keluarga, dan jabatan tidaklah kekal. Semua itu hanya titipan Allah pada kita,” kata Bupati Nagan Raya, T.Zulkarnaini, Senin (26/12).

Ia berharap semua pihak introspeksi dan memperbanyak amal baik. Selain itu memperhatikan anak yatim dan fakir miskin.

“Masih banyak anak-anak putus sekolah dan rumah ibadah yang belum sempurna,” kata Bupati.

Sementara itu, ratusan warga Kota Langsa juga larut dalam doa dan zikir di Masjid Syuhada, Gampong Meutia, Langsa Kota.

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini ditutup dengan tausiah dari Abati Seuriget Tgk. Murdani Muhammad.

Ketua DPD BKPRMI Kota Langsa, Tarmizi mengatakan, kegiatan berjalan lancar. “Bahkan dalam renungannya saat membacakan zikir dan doa, masyarakat yang mencapai lebih kurang 500 orang ini larut dalam keharuan,” sebut Tarmizi.

Di Aceh Selatan, Panglima Laot setempat menyatakan para nelayan tidak melaut dalam rangka memperingati 12 tahun tsunami.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, nelayan Aceh Selatan tidak melakukan aktivitas atau melaut. Warga melaksanakan doa bersama dan tausiah di masjid-masjid dan tempat lainnya,” kata H Muhammad Taslim.

Hal serupa juga disampaikan Panglima Laot Lhok Tapaktuan I, Muhammad Taslim, kesadaran nelayan tidak melaut tumbuh secara tulus dan telah menjadi kebiasaan di setiap peringatan tsunami Aceh.

“Pantauan saya, ratusan nelayan yang berada di Lhok Tapaktuan, seorangpun tidak melaut. Kondisi ini tentunya untuk menghargai dan mengenang musibah 12 tahun lalu,” paparnya.

Pemkab Aceh Selatan juga melaksanakan doa bersama di lokasi MTQ Taman Sahara, Gampong Kuta Baro, Kecamatan Meukek.

“Melibatkan para ulama dan teungku-teungku Imam Chiek. Semoga apa yang kita lantunkan hendaknya mendapat rahmat dari Allah,” ujar Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra.