AS Tolak Pemukiman Israel di Palestina, Netanyahu Ngambek

25 Desember 2016 18:49
Benyamin netanyahu. (Src: AFP)

INIKATA.com — PM Israel, Benjamin Natanyahu sedang ngambek ke Amerika Serikat. Pasalnya, sekutu terbesar Israel itu tak berusaha mencegah lolosnya usulan resolusi PBB terhadap pendudukan di wilayah Palestina. Pada voting yang digelar, Jumat (23/12) lalu, 14 anggota Dewan Keamanan PBB memilih setuju.

Sementara AS yang punya hak memveto usulan tersebut tidak menggunakannya, dan memilih abstain. Keputusan itu tentu saja membuat Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berang.

Sebab, sebelumnya Netanyahu meminta Donald Trump menekan Mesir agar menarik pengajuan resolusi tersebut. Mesir pun setuju dan mencabut resolusi itu pada Kamis (22/12), hanya berselang beberapa jam sebelum pemungutan suara.

Namun, sehari setelah itu, Selandia Baru, Malaysia, Venezuela, dan Senegal mengajukan resolusi serupa. Trump boleh saja sudah terpilih sebagai Presiden AS. Namun, saat ini jabatan tersebut masih dikuasai Obama.

Baca Juga: Bergerak Ke Suriah, Pesawat Militer Rusia Jatuh di Laut Hitam

Resolusi yang disetujui DK PBB di atas meminta Israel segera dan sepenuhnya menghentikan segala aktivitas pembangunan permukiman di wilayah pendudukan Palestina. Termasuk di Jerusalem Timur. Sebab, pembangunan itu tidak berkekuatan hukum.

’’Israel menolak resolusi anti-Israel yang memalukan di PBB tersebut dan tidak akan mematuhi ketentuan-ketentuan di dalamnya,’’ tegas Netanyahu, seperti dikutip dari AFP

Israel akan tetap melanjutkan pembangunan permukiman di dua wilayah Palestina itu. Netanyahu langsung menarik duta besarnya yang ditugaskan di Selandia Baru.

Menurut dia, pemerintah AS di bawah Obama gagal melindungi Israel dan malah berkolusi dengan negara-negara lain di PBB.

Dia menegaskan, Israel berharap bisa bekerja sama dengan presiden terpilih Donald Trump dan orang-orang di Kongres AS untuk menghilangkan efek resolusi PBB tersebut.

Selama ini Obama memang mendukung two-state solution untuk menyelesaikan masalah antara Israel-Palestina. Untuk mencapai hal itu, dunia harus mengakui Palestina terlebih dahulu sebagai sebuah negara yang merdeka.

Di lain pihak, Isreal selalu menentang pendirian negara Palestina. Trump langsung mencuit begitu tahu bahwa resolusi di PBB tersebut terus berjalan. ’’Kepada PBB, segalanya akan berbeda setelah 20 Januari,’’ tulisnya di Twitter yang merujuk pada hari pelantikannya sebagai presiden AS.

Baca Juga: Sadis, ISIS Rilis Video Bakar Hidup Hidup Dua Tentara Turki

Resolusi PBB di atas adalah momen bersejarah bagi Palestina. Untuk kali pertama sejak 1979, PBB berhasil meloloskan resolusi yang mengecam pendudukan Israel di wilayah Palestina. Begitu hasil voting keluar, seluruh ruangan gemuruh dengan tepuk tangan.

’’Keputusan DK PBB adalah pukulan besar bagi kebijakan Israel,’’ tegas Juru Bicara Kepresidenan Palestina Abu Rudeina.

Belakangan, Israel memang gencar melakukan pembangunan di wilayah Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Padahal, Jerusalem Timur akan dijadikan sebagai ibu kota negara Palestina.

Sebagian besar negara-negara di dunia melihat pembangunan tersebut sebagai halangan terhadap two-state solution. Saat ini terdapat 430 ribu permukiman Israel di Tepi Barat dan 200 ribu di Jerusalem Timur.(**)