Bom Sedang Disiapkan, Mereka tak Hanya Mengincar Istana

13 Desember 2016 9:56
Rumah di Bekasi yang digerebek Densus 88 Antiteror. Foto: dok.JPNN.com

JAKARTA — Jaringan teroris pimpinan Nur Solihin ternyata sedang mempersiapkan aksi teror estafet.

Fakta tersebut diketahui setelah menganalisa barang bukti dari tiga orang terduga jaringan teror yang ditangkap terakhir.

Setelah selesai merangkai bom panci, mereka sedang mempersiapkan bom lainnya.

Pada Sabtu lalu, Densus 88 Anti Teror menangkap Nur Solihin, Dian Yulia Novita, Agus Supriyadi dan Abu Izzah alias Suyanto.

Minggu kemarin, secara berantai ditangkap dalam waktu yang berbeda tiga orang lainnya, Khafid Fathoni dan dua orang lainnya dengan inisial WP dan APM. APM merupakan perempuan kedua yang ditangkap karena bom panci.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divhumas Mabes Polri Kombespol Martinus Sitompul mengatakan, APM ditangkap di Solo dan WP ditangkap di Klaten.

Keduanya masih jaringan dari Nur Solihin yang direkrut Bahrun Naim. ”Dalam penangkapan itu ditemukan barang bukti yang menunjukkan fakta baru,” jelasnya.
Barang bukti itu diantaranya, botol cairan nitrat, cairan kimia yang belum diketahui, laptop, alat komunikasi dan buku jihad.

Siapa saja yang terkait dengan mereka tentu harus dikejar,” paparnya.
Penyidik Densus 88 hanya tinggal memiliki waktu empat hari untuk memastikan status terduga teroris dan menaikkan status kasus tersebut.

Dengan begitu Jumat mendatang, baru diketahui apakah ketujuh terduga itu menjadi tersangka atau tidak. ”Kami masih mengkaji rangkaian dari kasus ini,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat teroris Al Chaidar menatakan bahwa pemerintah memang harus menutup segala jalan komunikasi dengan antara markas ISIS di Suriah dengan jaringan di Indonesia.
Terlebih lagi, komunikasi aktor perekrut ISIS asal Indonesia Bahrun Naim dengan lingkarannya di tanah air.

’’Kalau perlu, pemerintah melakukan kerja sama dengan perusahaan telegram untuk mencegah adanya komunikasi mencurigakan,’’ jelasnya.

Dia menganggap pemerintah dan pihak yang melawan ideology ISIS sudah bisa meretas komunikasi mereka dari sebagian besar media.

Dari media internet hingga telekomunkasi. Namun, komunikas via telegram tampaknya tak mudah disusupi tanpa persetujuan dari perusahaan.

’’Jokowi harus sadar jika saat ini aparat keamanan dan pejabat merupakan target utama dari jaringan ISIS. Perluada upaya ekstra untuk menelusuri jaringan dan memutusnya,’’ terangnya.

Dia juga menambahkan, aparat juga harus belajar dari kasus-kasus terorisme di luar negeri. Karena, mungkin saja ekstrimis di Indonesia meniru cara mereka dan melakukannya di wilayah mereka.

’’Mulai dari penyerangan dengan truk, penyerangan dengan pisau, hingga penyergapan kantor media. Semua itu mungkin saja ditiru oleh jaringan di sini,’’ tegasnya.